Rabu, 19 Agustus 2009

Teori - teori pergerakan bumi


Bumi kita merupakan bola pejal yang termampatkan dan berotasi dan berevolusi di dalam suatu titik pada orbitnya dalam sistem tata surya.
Jari-jari dari bumi kita sekitar 6371 km. bagian dalam bumi kita tediri dari beberapa bagian, bagian inti dalam bumi yang padat dan terdiri dari unsur Fe dan Ni, bagian inti luar bumi yang cair, mantel yang terdiri dari mantel dalam, astenosfer pada kedalaman 100-200 km, dan kerak bumi yang terdiri dari kerak samudera dan kerak benua. Kerak benua memiliki ketebalan sekitar 40km, sedangkan kerak samudera memiliki ketebalan sekitar 5km. tebal litosfer itu sendiri berkisar sekitar 100km

keberadaan atau kondisi permukaan bumi yang terdiri dari benua dan samudera dipengaruhi bagian dari dalam bumi. Hal ini telah dipelajari sejak abad ke 18. Teori yang berkembang pertama yang menjelaskan tentang keberadaan lempeng samudera dan lempeng benua adalah teori Continental Drift, teori ini menjelaskan mengenai benua yang tadinya bersatu lalu kemudian terpisahkan. adanya pemisahan dalam benua ini ditunjukkan oleh berbagai bukti umum dan bukti geologi, berupa jenis fauna, fosil, batuan yang mirip, gambaran struktur dan bentuk pantai.



teori mengenai continental drift ini diungkapkan oleh Antonio Snider-Pelligini dalam bukunya la creation et ses mysteres devoiles (1958) berdasarkan kesamaan fosil di Amerika Utara dan Eropa, Frank B. Taylor (1908) menjelaskan fakta geologi dalam teori ini, dan Alfred Wegener yang merupakan orang pertama yang melakukan penyelidikan mengenai teori ini dan dituangkan dalam The origins of the continens and oceans (1915)

Teori ini kemudian dianggap tidak dapat menjelaskan bagaimana pergerakan itu terjadi, lalu muncullah teori baru yang dinamakan teori tektonik lempeng dan berkembang hingga saat ini. Teori ini diawali sejak dilakukannya penyelidikan tentang topografi dan geologi bawah laut, dan paleomagmatisme di tahun 1950 - 1960. Hasil dari penyelidikan ini menunjukkan bahwa terjadinya pembalikan magmatis bumi dalam kurun waktu 70 - 80 juta tahun terakhir. Polaritas normal sesuai kondisi sekarang dan polaritas terbalik. terjadi paling tidak 9 kali pembalikan medan magnet dalam 4,5 juta tahun terakhir. pembalikan normal dimulai sejak 700.000 tahun yang lalu hingga sekarang. Paleomagnetisme itu sendiri merupakan studi mengenai kemagnetan purba pada batuan basaltis, dalam studi ini ditunjukkan perubahan posisi batuan terhadap waktu, mengikuti pola yang tetap dan menunjukkan kutub yang berbeda. Keberadaan studi ini yang dapat menunjukkan bahwa batuan berubah setiap waktu yang ditentukan berdasarkan polanya, hal ini dkemukakan dengan adanya teori sea-floor spreading yang diajukan oleh H.H.Hess pada tahun 1960 yang kemudian berkembang hingga menjadi teori tektonik lempeng hingga sekarang.
Berikut bukti terjadinya seafloor spreading di laut merah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar